leonardo's vitruvian man

Semboyan “Mensana Incorpore Sano” atau dalam bahasa Indonesia-nya berarti “didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat” sudah lama didengar oleh saya. Sedari kecil pun saya sudah mendengar istilah latin ini, namun pada saat itu pun tetap saja istilah “mensana incorpore sano” terdengar sangat uzur. Saya belum tahu kapan “mensana incorpore sano” menjadi slogan di jagad intelektual kesehatan. Tapi yang pasti istilah ini berasal dari bahasa Yunani. Satu-satunya yang menakjubkan saya disini hanyalah keberadaan bangsa Yunani merupakan suatu bangsa yang sangat berpengaruh hingga ke jagad intelektual di bumi kita ini.

Kesehatan pada awalnya memang tidak lepas dari mitologi-mitologi Yunani. Salah satu contoh mitologi Yunani yang paling sering diceritakan adalah Mitologi Asclepius dan Higeia. Diceritakan bahwa Asclepius adalah seorang yang dapat mengobati penyakit dan dapat melakukan buahprosedur bedah tertentu (surgical procedure) dengan baik. Sedangkan Higeia adalah assisten dari Asclepius yang akhirnya menjadi istri nya juga. Hanya saja dalam menangani pasien, Istrinya ini lebih mengajarkan pada pola hidup yang sehat, antara lain makanan bergizi, cukup istirahat, melakukan olahraga dan lain sebagainya.

Berangkat dari cerita mitos Yunani, Asclepius dan Higeia akhinya memunculkan dua “arus” dalam mendekati masalah-masalah kesehatan. Arus pertama adalah arus Asclepius dan arus yang kedua adalah arus Higeia. Arus pertama lebih menekankan pada aspek pengobatan (kuratif) sedangkan arus yang kedua menekankan aspek pencegahan dan peningkatan kesehatan (promotif-preventif). Hanya saja, pendekatan masalah kesehatan dengan penekanan pengobatan (kuratif) cenderung melihat manusia hanya sebagai sistem biologis, padahal manusia terdiri dari aspek bio-psiko-sosio, hal ini berbeda dengan pendekatan promotif-prefentif yang mana manusia mesti dilihat sebagai mahluk yang utuh (holistik).

Namun dalam perkembangannya pendekatan promotif-prefentif terhadap kesehatan lebih pada pendekatan keilmuan psikologi yang meretas wilayah psyche dari manusia. Berbasis pada jiwa (psyche), metode – metode pendekatan perilaku dalam mengembangkan kesehatan demi pemecahanotak masalah-masalah kesehatan lebih banyak dikembangkan.

Tapi yang memunculkan pertanyaan sekarang adalah dapatkah pendekatan yang berorientasi pada psyche ini memecahkan masalah kesehatan secara “keseluruhan”? Mengingat ranah kesehatan begitu luas mencakup lebih sekedar wilayah kognitif-afektif saja. Kesehatan lebih mencakup wilayah bio-psiko-sosio dari manusia. Sebab “sehat” yang sering kita utarakan dalam bahasa Indonesia ini setara dengan bahasa Inggris yakni “health” yang memiliki akar kata “hale” (dari bahasa anglosaxon) yang merupakan perubahan bentuk darikata “hole” dengan makna sama dengan “whole” atau berarti “keseluruhan” (holistik), ini berarti bukan hanya bebas dari penyakit ataupun cacat,tapi seperti yang didefinisi oleh WHO yang mendefinisikan sehat adalah suatu taraf lengkap fisik, psiko dan sosial. Dapatkah kita tiba pada pengertian yang sebenarnya dari taraf tersebut? Apakah begitu yakinkah kita bahwa taraf tersebut hanyalah taraf psyche-socio? atau begitu yakinkah kita bahwa itu adalah taraf dari bio semata?

Saya harap kita semua kembali Sehat dalam pengertian yang benar…

Advertisements